Arema FC

Arema FC Terancam Kehilangan Satu Pemain Asing

Arema FC bisa jadi bakal kembali kehilangan satu lagi pemain asing mereka jelang lanjutan Shopee Liga 1 musim 2020. Elias Alderete, salah satu pemain asing klub berlogo singa mengepal atau yang sering di sebut singo edan tersebut, disebut berpeluang hengkang.

Tengara bakal hengkangnya Alderete disebut tak lepas dari adanya penyesuaian kontrak yang dilakukan. Pemain asal Argentina ini dikabarkan belum sepakat dengan poin-poin negosiasi kontrak, seperti yang tercantum dalam keputusan PSSI.

Menurut kabar tersebut, akibat belum sepakat dengan renegosiasi kontrak ini, Alderete belum menandatangani kontrak anyar di Arema.

Kabar ini ternyata tak sekadar kabar burung. Manajemen Arema FC mengakui bahwa Alderete belum mengikat kesepakatan bertahan bersama mereka pada lanjutan Shopee Liga 1 musim 2020.

Elias Alderete

baca juga : Alasan Fans Manchester United Kepada Solskjaer

“Memang, sampai hari ini, ia belum tanda tangan,” ucap General Manager Arema FC, Ruddy Widodo, pada Bola.net. “Ia meminta manajemen Arema untuk bernegosiasi dengan agennya,” sambungnya.

Sebelumnya, Arema sendiri sudah kehilangan sejumlah pemain mereka akibat adanya renegosiasi kontrak. Selain Jonatan Bauman, Oh In Kyun juga hengkang dari Arema akibat adanya kebijakan PSSI tersebut.

Selain pemain, Arema juga kehilangan pelatih mereka akibat tak bersepakat soal renegosiasi kontrak. Mario Gomez dan Marcos Gonzales memilih hengkang dari Arema FC.

Sudah Negosiasi dengan Agen Alderete

Lebih lanjut, Ruddy mengaku bahwa manajemen Arema sudah menjalin komunikasi dan bernegosiasi dengan agen Alderete. Namun, sampai saat ini, belum ada kesepakatan yang terjalin antara kedua pihak.

baca juga : Pioli Kembali Ditanya Soal Kedatangan Rangnick

Ruddy arema

“Kami sudah dua tiga kali bernegosiasi soal Alderete,” ungkap Ruddy. “Namun, sejauh ini belum ada kesepakatan,” sambungnya.

Menurut Ruddy, ada beberapa hal yang membuat manajemen Arema FC tak bisa memenuhi permintaan agen Alderete. Salah satunya adalah permintaan gaji yang lebih tinggi dari ketetapan PSSI.

“Ia minta gaji Maret sampai Agustus tidak 25 persen, tapi 50 persen. Kami tidak bisa karena ketetapan 25 persen ini dari PSSI,” ucap manajer berusia 48 tahun tersebut. “Arema seperti ini karena ada arahan PSSI, bukan karena keinginan sendiri,” ia menandaskan.